Jumat, 10 Agustus 2012

Sungai Talang Punya: Randai Saedar Siti Janela

Randai dalam sejarah Minangkabau memiliki sejarah yang lumayan panjang. Biasanya, satu grup Randai berjumlah 14 sampai 25 orang pemain yang membawakan lakon dari cerita-cerita rakyat, seperti, Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, Kati Alam, Samsudin, Siti Sabariah, Alam, Saedar Siti Janela, dan cerita rakyat lainnya.
Randai ini bertujuan untuk menghibur masyarakat biasanya diadakan pada saat pesta rakyat atau pada hari raya Idul Fitri.Randai ini dimainkan oleh pemeran utama yang akan bertugas menyampaikan cerita, pemeran utama ini bisa berjumlah satu orang, dua orang, tiga orang atau lebih tergantung dari cerita yang dibawakan, dan dalam membawakan atau memerankannya pemeran utama dilingkari oleh anggota-anggota lain yang bertujuan untuk menyemarakkan berlansungnya acara tersebut.
Pada awalnya Randai adalah media untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam atau syair yang didendangkan dan galombang (tari) yang bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau. Namun dalam perkembangannya, Randai mengadopsi gaya penokohan dan dialog dalam sandiwara-sandiwara, seperti kelompok Dardanela.
Randai pada awalnya adalah media untuk menyampaikan cerita-cerita rakyat, Keunikannya terletak pada bentuk penyajian dengan bentuk pola lingkaran. Kedekatan antara pemain dan penonton menjadikan Randai sangat akrab dengan masyarakat Minangkabau. Dan kurang tepat jika Randai disebut sebagai teater tradisi Minangkabau, walaupun dalam perkembangannya Randai mengadopsi gaya bercerita atau dialog teater atau sandiwara.

RANDAI SAEDAR SITI JANELA
Randai Saedar Siti Janela merupakan randai yang berasal dari Nagari Sungai Talang, Kecamatan Guguak, Kabupaten 50 Kota
SAEDAR Janela merupakan ungkapan yang sering disebut pahlawan nasional Buya Hamka. Artinya, permata yang hilang. Adapun tari randai Saedar Janela, berkisah tentang daerah-daerah di Luhak Limopuluah yang mulai hilang, karena terpisah wilayah administratif.
Randai Saedar Janela awalnya berkisah tentang seorang perantau Luak Limopuluah Koto yang berada di Padang Siontah (kini masuk Situjuah Limo Nagari). Perantau itu kelak mempersunting putri Limo Koto, Kuok, Bangkinang, Salo, dan Aiatiri (kini masuk wilayah Riau).
Usai menikah mereka pulang kembali ke Luak Limopuluah Koto. ”Intinya, randai Saedar Janeela ini menceritakan, bahwa daerah Bangkinang dan Kampar Riau adalah bahagian tak terpisahkan dari Luak LimopuluahCerita tentang daerah-daerah yang tak bisa dipisahkan itulah, yang dikemas menarik sekali oleh anak-anak Nagari Sungaitalang.

0 komentar:

Posting Komentar

125x125 Ads3

jalan menuju sungai talang