Randai dalam sejarah Minangkabau
memiliki sejarah yang lumayan panjang. Biasanya, satu grup Randai berjumlah 14
sampai 25 orang pemain yang membawakan lakon dari cerita-cerita rakyat, seperti, Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan
Tongga, Kati Alam, Samsudin, Siti Sabariah, Alam, Saedar Siti Janela, dan cerita rakyat lainnya.
Randai ini bertujuan untuk
menghibur masyarakat biasanya diadakan pada saat pesta rakyat atau pada hari
raya Idul Fitri.Randai ini dimainkan oleh pemeran utama yang akan bertugas
menyampaikan cerita, pemeran utama ini bisa berjumlah satu orang, dua orang,
tiga orang atau lebih tergantung dari cerita yang dibawakan, dan dalam
membawakan atau memerankannya pemeran utama dilingkari oleh anggota-anggota
lain yang bertujuan untuk menyemarakkan berlansungnya acara tersebut.
Pada awalnya Randai adalah media
untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam atau syair yang
didendangkan dan galombang (tari) yang bersumber dari gerakan-gerakan silat
Minangkabau. Namun dalam perkembangannya, Randai mengadopsi gaya penokohan dan
dialog dalam sandiwara-sandiwara, seperti kelompok Dardanela.
Randai pada awalnya adalah media
untuk menyampaikan cerita-cerita rakyat, Keunikannya terletak pada bentuk
penyajian dengan bentuk pola lingkaran. Kedekatan antara pemain dan penonton
menjadikan Randai sangat akrab dengan masyarakat Minangkabau. Dan kurang tepat
jika Randai disebut sebagai teater tradisi Minangkabau, walaupun dalam
perkembangannya Randai mengadopsi gaya bercerita atau dialog teater atau
sandiwara.
RANDAI SAEDAR SITI JANELA
Randai Saedar Siti Janela
merupakan randai yang berasal dari Nagari Sungai Talang, Kecamatan Guguak, Kabupaten
50 Kota
SAEDAR Janela merupakan ungkapan
yang sering disebut pahlawan nasional Buya Hamka. Artinya, permata yang hilang.
Adapun tari randai Saedar Janela, berkisah tentang daerah-daerah di Luhak
Limopuluah yang mulai hilang, karena terpisah wilayah administratif.
Randai Saedar Janela awalnya
berkisah tentang seorang perantau Luak Limopuluah Koto yang berada di Padang
Siontah (kini masuk Situjuah Limo Nagari). Perantau itu kelak mempersunting
putri Limo Koto, Kuok, Bangkinang, Salo, dan Aiatiri (kini masuk wilayah Riau).
Usai menikah mereka pulang
kembali ke Luak Limopuluah Koto. ”Intinya, randai Saedar Janeela ini
menceritakan, bahwa daerah Bangkinang dan Kampar Riau adalah bahagian tak
terpisahkan dari Luak LimopuluahCerita tentang daerah-daerah yang tak bisa
dipisahkan itulah, yang dikemas menarik sekali oleh anak-anak Nagari
Sungaitalang.